Sarjana, Pengangguran Terselubung



          Tiba-tiba kerumunan manusia berbalut busana toga tersebut mendekatiku yang sedang duduk bersila disalah satu sudut gedung widyaloka UB. bukan lagi dua atau tiga orang, namun jumlahnya bisa kupastikan ribuan. sementara mereka terlihat letih mengikuti ceremonial acara, tampak disamping mereka beberapa handai taulan yang sudah sedari pagi menunggu di depan gedung tempat acara.

Dari kejauhan nampak seorang ibu menggenggam erat pergelangan tangan putranya, sambil sesekali mengusap air matanya tanda bangga. Di sudut lain beberapa orang nampak coba mengabadikan momen dengan berfoto-foto, mungkin fikir mereka ini adalah momen terakhir sebelum mereka benar-benar meninggalkan almamater tercinta.

Rasa bangga, haru dan bahagia memang selalu menghiasi momen wisuda sarjana seperti hari ini. Betapa tidak, penantian panjang para orang tua hari ini seolah terjawab tuntas. Buah hati mereka kini resmi menyandang gelar sarjana, pada hari ini juga pikiran mereka pun akan sekilas melayang ke beberapa tahun ke belakang. Asa tinggi mereka semai saat itu. Saat pertama kali “menitipkan” anak mereka di sebuah perguruan tinggi. Bagi mereka tak jadi masalah harus menjual sawah asalkan buah hati mereka mendapatkan service terbaik dalam akademik. Dan hari ini juga, berbekal ijazah hasil keringat selama empat tahun, para orang tua pun kembali menggantungkan harapan agar kelak anak mereka bisa mendapatkan kerja demi jaminan masa depan yang lebih baik.

Di Universitas Brawijaya sendiri pemandangan seperti ini bisa terjadi empat sampai lima kali setahun. Untuk satu kali wisuda mereka menelurkan paling tidak 1000 mahasiswa, artinya dalam satu tahun jumlah sarjana dari UB bisa mencapai 5000 orang. Namun yang selama ini menjadi pertanyaan besar saya adalah akan kemanakah ribuan sarjana tersebut setelah di wisuda??? tak akan jadi masalah jika kemudian mereka langsung mendapatkan pekerjaan, masalahnya dalam konteks riilnya justru perguruan tinggi adalah penyumbang terbesar pengangguran di Indonesia. Logika bodohnya begini, UB hanyalah salah satu perguruan tinggi di kota Malang, padahal di kota apel ini ada puluhan perguruan tinggi. Belum lagi di sakala jawa timur, dan yang tak terbayangkan lagi adalah akumulasi jumlah sarjana di Seluruh Indonesia, bandingkan dengan jumlah lapangan pekerjaan di negeri yang katanya Gemah ripah loh jinawi ini. (was published in kompasiana.com)

Reply to this post

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Followers