Hidup awet tanpa bahan pengawet

         Bumiaji Kota Batu 04.30 WIB, saat mungkin orang-orang di kota masih asyik dengan mimpi. Tidak dengan beberapa orang petani anggota kelompok tani Arjuna Flora desa Tulungrejo. Bagi mereka tak cukup mimpi untuk bisa membuat kehidupan mereka lebih layak. Hari itu hari minggu, hari dimana orang-orang di kota sedang libur kerja, sekali lagi tidak dengan mereka. Tak pernah ada hari kata libur dalam kamus mereka, mereka percaya tuhan tak pernah libur dalam memberikan rizki. Pagi itu Sabit, blongsong, sepatu boot, alat penyemprot pestisida, mesin diesel, semua diabsen dipastikan ikut masuk dalam bak mobil mereka.

masihkah anda mau makan apel??

            Agenda pagi itu adalah penyemprotan pestisida dan nutrisi untuk pohon apel yang sedang berbunga. Semua peralatan diturnkan dari bak mobil, tak lama kemudian beberapa botol yang berisi “ramuan” pestisida, nutrisi serta vitamin untuk tanaman apel dituangkan jadi satu ke sebuah kolam berukuran 2x2 meter dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Dengan cekatan dan tanpa ragu-ragu, seorang petani mulai mengaduk campuran beberapa cairan tadi. Sebenarnya lebih mirip orang mengaduk adonan jamu atau adonan kue, bedanya alat yang digunakan mengaduk bukanlah sendok melainkan kayu yang panjangnya sekitar dua meter.

               Bunga-bunga apel yang masih terlihat basah oleh embun pagi itu seolah menantikan saat-saat para petani menyemprotkan nutrisi untuk mereka. Tak hanya nutrisi, mereka juga sangat membutuhkan pestisida agar daun dan bunga mereka tidak habis dimakan ulat penggerek daun atau hama thrips sekalipun. Agar pestisida lebih ampuh dan lebih tahan lama biasanya juaga ditambahkan semacam zat pelengket agar pestisida tersebut bisa menempel pada bunga dalam jangka waktu lama dan permanen. Jadi bisa dibayangkan, apel yang kita makan tiap hari sebenarnya sudah tercemari pestisida sejak apel tersebut masih berbentuk bunga. Sedangkan Nutirsi yang diberikan petani biasanya adalah nutrisi yang mengandung unsur P (phospor) tujuannya adalah mempercepat pembungaan. Selain nutrisi dan pestisida, bahan kimia lain yang menjadi syarat mutlak adalah zat kimia yang digunakan untuk proses defoliasi(proses pengguguran daun secara paksa dengan zat kimia).

              
Mengapa sampai ada “pemaksaan” pada proses budidaya apel???. Hal ini dikarenakan apel merupakan buah “naturalisasi” dari luar negri. Tanaman apel sebenarnya hidup di negara yang beriklim sub-tropis, artinya negara tersebut memiliki empat musim dalam setahun dan salah satunya adalah musim gugur. Sedangkan di Indonesia yang hanya memiliki dua musim sebenarnya kurang cocok untuk tanaman apel, jadi untuk memodifikasi agar apel juga merasakan musim gugur maka dilakukanlah proses defoliasi.

          Suara deru mesin penyemprot apel seirama dengan derap langkah kaki para petani yang terlihat semangat pagi itu. Tanpa alat pengaman apapun mereka mulai melakukan penyemprotan campuran beberapa cairan tersebut ke tanaman apel. Mereka juga tidak memperhatikan arah angin, padahal terlihat mereka menyemprotkan dari arah yang berlawanan dengan angin. Hal ini sebenarnya sangat berbahaya bagi mereka sebab pestisida yang mereka semprotkan akan kembali pada mereka dan sangat membahayakan bagi pernafasan. Namun bagi mereka keselamtan dan keamanan bagi kesehatan mereka bukan lah hal utama, .......sek yo...nulisku hurung mari....khbisan ide,,,,,,hehe

Reply to this post

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Followers