
ORANG MISKIN DILARANG SAKIT
Pagi ini tak seperti pagi-pagi biasanya, Romlah yang di pagi-pagi lain sibuk bergelut dengan asap dapur hari ini terlihat nampak serius di depan televisi, acara yang dinantikannya adalah program berita pagi. Romlah bukan seorang pemerhati media, bukan pula seorang eksekutif muda yang tiap pagi harus up date berita. Dia hanya seorang ibu rumah tangga yang baru tujuh bulan menyandang status janda lantaran ditinggal mati suaminya. Pagi itu matanya berkaca-kaca ketika Grace Nathalie mengulas kembali berita tentang Bilqis Anindya Pasha, balita 18 bulan yang kemarin menghembuskan nafas terahirnya di RSUP dr. Karyadi Semarang. Semua orang sudah barang tentu mengetahui bagaimana kisah bilqis, begitu juga Romlah. Air matanya pagi itu pun seolah kembali mengurai kisah tentang anaknya, BENDI.
Bendi, seorang remaja seperti teman-teman kami yang lainnya. Remaja desa yang cerdas tapi tak culas. Layaknya remaja pada umumunya, kami isi hari-hari kami dengan kenakalan khas remaja. Usai sekolah kami dan Bendi biasa habiskan sore dengan bermain bola di sebuah lapangan pabrik yang belum jadi. Tentu saja hal itu sebenarnya dilarang, beberapa kali kami harus lari kocar-kocir sambil menahan tawa ketika petugas proyek datang. Sebab andai saja kami tertangkap, kami bisa jadi bulan-bulanan mereka. Tak jarang ketika kami berhasil kabur, bola kami menjadi sasaran mereka. Alhasil keesokan harinya kami temui bola kami di tempat sampah sudah terbelah menjadi beberapa bagian. Tapi hal itu selalu saja terulang tiap sore, maklum lahan kosong kini menjadi barang yang mahal bagi kami sebab desa kami kini perlahan mulai merubah wajahnya menjadi kota industri dan pariwisata.Selepas ngaji di surau samping rumahnya kami habiskan malam dengan berkumpul hingga larut. Jarang ditemui kata belajar dalam kamus kami yang ada adalah menghabiskan malam dengan kegiatan lain, termasuk juga beberapa aktivitas yang terbilang kurang terpuji. Nyolong jambu tetangga misalnya (hehe tapi s'q wes tobat rekkkk...). Ah..tapi berapa sih harga jambu tentu saja tidak ada jambu yang harganya 25 miliar atau bahkan 6,7 triliun. Toh rasanya harga jambu tadi sudah terbayarkan oleh marahan tetangga ketika memergoki ulah kami. Entah mengapa dalam beberapa kesempatan Bendi bisa menjadi pemimpin bagi kami. Kadang termasuk juga dalam hal yang kurang terpuji. Mungkin karena sifat kesetiakawannya serta mudahnya dia bergaul dengan siapapun.